Infoaskara.com
Belakangan ini, kata \”self-healing\” sering kali menjadi perbincangan di segala penjuru media sosial. Beberapa orang memposting foto liburan singkat dengan menambahkan keterangan \”sedang melakukan penyembuhan pribadi\”, dan lainnya mengunggah klip minum kopi sendiri di atap gedung sambil berkata bahwa mereka tengah merawat dirinya. Istilah tersebut telah menjadi seperti mantra umum yang terdengar sangat enak didengar, bahkan ketika kita sesungguhnya masih dikerjakan oleh tugas-tugas pekerjaan, disertai skripsi, ataupun laporan-laporan bulanan.
Di belakang arus self-healing yang tampak cantik dan menyejukkan tersebut, ada pertanyaan signifikan: dapatkah self-healing benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang penuh tekanan, khususnya ketika batas waktu tiba beruntun? Apakah ini jawaban untuk menjaga kesejahteraan jiwa kita, atau hanyalah tempat pelarian singkat yang menggoda?
Untuk banyak orang, khususnya mereka yang menjalani gaya hidup serba cepat saat ini, konsep self-healing tampak sangat menggiurkan namun susah direalisasikan. Bagaimana mungkin melakukan penyembuhan diri ketika waktu istirahat pun dipotong habis hanya untuk memperbarui pekerjaan? Sebaliknya, kita merasa perlu memiliki ruang untuk beristirahat, akan tetapi tak dapat melupakan tuntutan tanggung jawab yang selalu bertambah. Inilah awal dari paradoks tersebut: bagaimana caranya menyembuhkan diri sendiri tanpa meninggalkan tugas-tugas penting yang tidak henti-hentinya menumpuk.
Self-healing kerap kali diartikan salah sebagai kegiatan berlibur atau sesuatu yang tampak \”santai\” dari luar. Namun sebenarnya, maknanya jauh lebih mendalam daripada hanya menghabiskan waktu di hotel sembari melakukan perawatan kulit sambil menyetel musik lo-fi. Self-healing merupakan suatu proses untuk menyadari lukisan hati, memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk merasakan emosi yang timbul, serta secara bertahap menerima kenyataan bahwa kita tak harus kuat 24/7.
Sekali dikemas secara visual di platform media sosial, arti dari istilah tersebut menjadi sedikit samar. Banyak orang mengeluh bahwa mereka tak berhasil melaksanakan self-healing lantaran kurang memiliki waktu ataupun dana untuk berlibur. Namun demikian, proses penyembuhan diri dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana seperti bernapas dalam-dalam antara tenggang tugas-tugas penting, mencatat perasaan selama 10 menit sebelum tidur, atau cukup mematikan pemberitahuannya sesaat supaya pikiran lebih tenang dan tidak begitu dipusingkan.
Di sisi lain, ada juga anggapan bahwa self-healing hanyalah mitos modern semacam alasan untuk menunda pekerjaan atau menghindari tanggung jawab. Tapi perspektif ini juga perlu dikritisi. Karena realitanya, banyak orang yang tetap bekerja sambil diam-diam menanggung tekanan batin. Jika tidak diberi ruang untuk “healing”, bukan tidak mungkin hal itu berubah jadi stres kronis, kecemasan, atau bahkan burnout.
Ini berarti bahwa self-healing tidak boleh dijadikan cara lari dari masalah, tetapi harus dilihat sebagai bagian penting dari menjaga kesejahteraan diri sendiri secara bertanggung jawab. Dengan menyediakan sedikit waktu untuk meredam pikiran dan emosi, kita dapat kembali kepada aktivitas harian dalam keadaan psikologis yang lebih baik. Malah, mendorong diri terlalu keras tanpa istirahat hanyalah akan menguras tenaga Anda, daripada membantu mencapai tujuan dengan cepat.
Hal yang penting dimengerti ialah bahwa self-healing merupakan suatu proses, bukan tujuan akhir. Proses ini tidak selalu cepat, dan hasilnya pun mungkin belum tentu sempurna. Terkadang, self-healing berarti meluangkan waktu untuk sekedar berlinangan air mata di toilet kantor kemudian bangkit lagi untuk menjalani hari. Atau bisa pula bermakna menolak undangan berkumpul dengan teman-teman saat tubuh membutuhkan istirahat. Sederhana namun sering dilupakan karena kekhawatiran akan dianggap sebagai orang yang lemah.
Dalam lingkungan yang selalu meminta kita untuk tetap aktif dan siaga, mampu mengambil waktu istirahat menjadi tindakan pemberontakan. Lantas, apakah self-healing saat menghadapi batas waktu hanyalah sebuah mitos? Tentu tidak. Namun demikian, ini pun bukanlah obat mujarab yang bisa membuat segalanya langsung pulih dengan sempurna. Self-healing merupakan suatu upaya sadar dalam meluangkan waktu dari rutinitas padat, sebagai bagian penting dari penghargaan pada diri sendiri di era serba cepat ini.
Meninjau apakah teknik pemulihan diri dapat diterapkan saat menghadapi batas waktu yang ketat atau hanyalah sebatas mitos yang beredar di media sosial. ***